GURU YANG BELAJAR ULANG

Cerita pendek

Rp125000.00Rp90000.00

Penulis : Muthmainnah

Tahun rerbit : April 2026

ISBN : dalam proses

Editor : Ahmad Al Yakin

Desain Kover : Sukmawati, S.P

Layouter : Ratnawati, S.Pd

Penerbit : CV. Cemerlang Publishing

Ukuran : 14,8 X 20,5 CM

Keterbalan : 195

Redaksi:

Hp. 085145459727

Email: cemerlangpublishing949@gmail.com

Web: https://www.cvcemerlangpublishing.com

Cetakan Pertama: April 2026

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit.

Pratinjau Ebook_Pdf

SINOPSIS

GURU YANG BELAJAR ULANG adalah kumpulan cerita pendek yang merangkai perjalanan batin seorang guru dalam menghadapi perubahan zaman yang bergerak cepat, tak terduga, dan sering kali mengguncang makna terdalam dari profesinya. Melalui metafora “ombak” yang terus berubah, buku ini menggambarkan dunia pendidikan sebagai lautan luas—dinamis, kadang tenang, namun tak jarang menghadirkan gelombang besar yang memaksa setiap pendidik untuk beradaptasi atau tenggelam.

Cerita-cerita dalam buku ini berpusat pada sosok guru yang awalnya merasa cukup dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Namun, realitas baru—mulai dari disrupsi digital, perubahan karakter peserta didik, hingga krisis makna dalam pembelajaran—perlahan menggoyahkan keyakinannya. Ia dihadapkan pada kenyataan bahwa menjadi guru bukan sekadar mengajar, melainkan terus belajar, bahkan “belajar ulang” dari nol.

Setiap judul menghadirkan fragmen perjalanan yang saling terhubung. Dari Gelombang yang Datang Tanpa Peringatan, pembaca diajak menyaksikan awal kegelisahan ketika perubahan datang begitu cepat. Di Di Antara Kapur dan Waktu, tergambar konflik antara metode lama dan tuntutan baru. Sementara itu, Kelas Digital dan Ruh Pendidikan serta Jejak di Dunia Maya mengangkat pergulatan guru dalam memaknai teknologi—apakah ia sekadar alat, atau justru menggeser esensi pendidikan itu sendiri.

Ketegangan emosional semakin terasa dalam bagian seperti Gelombang Balik: Antara Harapan dan Luka dan Langit yang Retak, di mana idealisme seorang guru diuji oleh realitas yang tidak selalu berpihak. Namun di balik itu, muncul pula cahaya harapan dalam Generasi yang Menyala dan Api dan Air, yang menunjukkan bahwa di tengah krisis, selalu ada ruang untuk tumbuh, bertransformasi, dan menemukan kembali makna.

Puncak refleksi hadir dalam Jalan Pulang dan Guru yang Belajar Ulang, ketika tokoh utama akhirnya menyadari bahwa perubahan terbesar bukan terjadi di ruang kelas, melainkan dalam dirinya sendiri. Ia belajar untuk merendahkan ego, membuka diri terhadap hal baru, dan melihat murid bukan sebagai objek pengajaran, tetapi sebagai subjek yang juga mengajarkannya banyak hal tentang kehidupan.

Ditutup dengan Surat untuk Muridku, buku ini menghadirkan pesan yang hangat, reflektif, sekaligus menyentuh: bahwa relasi antara guru dan murid adalah perjalanan dua arah—saling membentuk, saling menguatkan, dan saling belajar.

Secara keseluruhan, GURU YANG BELAJAR ULANG bukan hanya kumpulan cerita, tetapi cermin bagi para pendidik, calon guru, dan siapa saja yang peduli pada dunia pendidikan. Buku ini mengajak pembaca untuk merenung: di tengah perubahan yang tak terhindarkan, apakah kita masih bersedia belajar ulang, atau justru bertahan dalam kenyamanan yang perlahan usang?

Sebuah karya yang menyentuh, reflektif, dan relevan dengan tantangan pendidikan di era digital dan disrupsi saat ini.